Rabu, 26 Desember 2012

TEORI PERKEMBANGAN ANAK SEKOLAH DASAR (SD)


PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR MENURUT PIAGET, VIGOTSKY DAN TEORI PEMEROSES INFORMASI

A.    PENDAHULUAN
Teori Perkembangan Kognitif, adalah teori yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata - skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya - dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.
Anak-anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik yang sangat unik dan berbeda-beda antar setiap individunya. Anak usia sekolah dasar lebih senang bermain, senang bergerak, senang bekerja kelompok dengan teman sebayanya, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
Teori perkembangan anak pada usia sekolah khususnya sekolah dasar dewasa ini kurang mendapatkan perhatian secara profesional dalam membentuk karakteristik dan perkembangan peserta didik sesuai dengan usia perkembangannya. Pengaruh perkembangan peserta didik lebih didominasi oleh pengaruh-pengaruh dari lingkungan luar (masyarakat).
Sejalan dengan itu, teori perkembangan Vygotsky menekankan pentingnya pola sosiokultural dimana individu menjadi salah satu unsurnya. Maksudnya, interaksi sosial memiliki peranan yang sangat mendasar dalam perkembangan kognitif anak.  Selain genetik dan lingkungan, perkembangan dipengaruhi oleh campuran kekuatan sosial yang mengitari individu anak. Perubahan-perubahan kualitatif yang terus terjadi di lingkungan dan pada diri individu anak menghasilkan pencapaian perkembangan baru dan menandai titik tolak perkembangan baru.
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989).
Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah Sensory receptor, Working memory dan Long tern memory.
Sedangkan proses control diasumsikan sebgai strategi yang tersimpan didalam ingatan dan dapat dipergunakan setiap saat di perlukan.




B.     MASALAH
            Berdasarkan uraian pendahuluan di atas, makalah ini akan menguraikan secara detail tentang Perkembangan kognitif Anak Usia Sekolah Dasar menurut piaget, Vigotsky dan teori pemeroses Informasi.

C.    PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK SEKOLAH DASAR MENURUTPIAGET, VIGOTSKY DAN TEORI PEMEROSES INFORMASI

1.      TEORI PIAGET
a.       Teori perkembangan kongnitif menurut Piaget
Kemampuan kongnitif sejalan dengan kemampuan sel-sel saraf otak. Teori ini dibangun berdasarkan kombinasi sudut pandang psikologi yaitu aliran struktural dan aliran konstruktif. Psikologi struktural yang mewarnai teori kongnitif piaget dapat dikaji dari pandangannya tentang inteligensi yang berkembang  melalui perkembangan kualitas struktur kongnitif. Aliran konstruktif terlihat dari pandangan piaget ( 1974) yang menyatakan bahwa anak membangun kemampuan kongnitifnya melalui interaksi dengan dunia sekitarnya.

b.      Teori belajar kongnitif
Perkembangan kongnitif individu meliputi empat tahapan yaitu: (1). Sensor motorik (2) Pra oprasional, (3) oprasional kongkret (4) Oprasional formal
Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahapan perkembangan kongnitif peserta didik, hendaknya diberi kesempatan untuk melakuakan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebayanya dan dibantu dengan pertanyaan dari gurunya yang bertujuan untuk merangsang peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan hal-hal dari lingkungan.    


c.       Prinsip-prinsip perkembangan kongnitif  menurut Piaget
Perkembangan kongnitif dilakukan melalui serangkaian proses, yaitu proses asimilasi, akomodasi, dan equilibirium.
-          Proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi berkaitan dengan proses penyerapan informasi baru ke dalam informasi yang telah ada di dalam struktur kongnitif yang disebut  schmata. Hasil proses asimilasi adalah tanggapan informasi atau pengetahuan yang baru diterima.
Akomodasi adalah kemampuan untuk menggunakan informasi atau pengetahuan yang telah ada dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.
-          Equilibirium terjadi pada saat mengalami hambatan dalam melakukan akomodasi pengetahuan dan pengalamannya untuk mengadaptasi lingkungan disekitarnya .
-          Bertitik tolak dari uraian yang telah diberikan di bagian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa anak membangun pengetahuan dalam rangka memahami lingkungannya dan menemukan hal-hal yang baru.
-          Jenis-jenis pengetahuan
Piaget (1974) menjelaskan jenis – jenis pengetahuan yang diperoleh anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya. Jenis-jenis pengetahuan tersebut meliputi (1) pengetauhan tentang alam dan dunia sekitarnya, (2) pengetahuan yang berkaitan dengan logika matematika, (3) penetahuan-prngetahuan sosial.
d.      Penerapan teori Piaget dalam pendidikan dan pembelajaran
Bertitik tolak dari uraian piaget tentang perkembangan kongnitif maka untuk penerapan  teori tersebut di dalam pendidikan perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
-          Lingkungan pendidikan sebaiknya menyediakan berbagai kegiatan yang mendorong perkembangan kongnitif anak. Interaksi anak dengan teman – teman sebayanya adalah perlu karena melalui kegiatan bermain anak akan melakukan berbagai kegitan positif, seperti melakukan eksplorasi, inquiri dan menemukan berbagai hal yang baru atau discovery. Semua aktivitas tersebut memperkaya pengalaman empirik, logika – matematika dan sosial anak.
-          Dalam proses pembelajaran guru perlu mempertimbangkan strategi mengajar yang menghadapkan anak pada peristiwa yang mengandung konflik ketidak pastian, sehingga anak akan memiliki kesadaran terhadap konflik dan ketidak pastian sehingga proses asimilasi, akomodasi dan equilibirium dapat terjadi
-          Guru yang menerapkan teori kongnitif di dalam proses pembelajaran yang dibinanya perlu menganalisis proses belajar berdasarkan tugas - tugas  belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangan kongnitif anak sehingga anak dapat berpartisipasi secara akatif di dalam proses belajar tersebut melalui berbagai kegiatan eksplorasi, inquiri, dan discovery.
e.       Ide - ide Dasar Teori Piaget
Piaget telah menemukan beberapa konsep tentang sifat-sifat perkembangan kognitif anak diantaranya :
1.      Anak adalah pembelajaran yang aktif
2.      Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya
3.      Anak mensesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi
4.      Proses ekuilibrasi menunjukkan adanya peningkatan kearah bentuk-bentuk kepemikiran yang lebih komplek.
Temuan Piaget yang lain tentang pemikiran perkembangan pikiran anak-anak berkaitan dengan logika. Ia berpendapat bahwa logika mungkin sangat relevan pada pikiran anak-anak misalnya ia menemukan anak-anak usia kurang dari sebelas tahun kurang dapat menggunakan logika dalam pikirannya.
Menurut Piaget anak-anak pada masa kongkret operasioanal telah mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak (Johnson dan Medinus, 1974). Hal ini adalah karna pada masa ini anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu ;
a.       Negasi (Negation)
b.      Resiprokasi (Hubungan timbal balik)
c.       Identitas




2.      TEORI VYGOTSKY
a.       Teori perkembangan kongnitif menurut Vygotsky
Kongnitif berkembang secara alamiah. Penelitian yang dilakukan vygotsky tentang perkembangan kongnitif manusia dilakukannya dalam suasana yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada subjek penelitinya untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat diobservasi.
Dalam melaksanakan penelitiannya ia menerapkan tiga teknik (Vyotsky, 1978) yaitu Teknik pertama yaitu memberi berbagai kendala pada subjek penelitinya yang dapat dipecahkan dengan pemecahan masalah biasa. Misalnya meminta anak yang menguasai bahas asing untuk menyelasaikan tugas kelompok dengan anak yang tidak menguasai bahas asing.
Teknik kedua dilakukan dengan memberikan alat yang dapat digunakan oleh anak untuk memecahkan masalahnya. Dalam kondisi yang bervariasi anak-anak yang berbeda usianya diharpkan dapat menggunakan alat tersebut dengan berbagai cara yang berbeda.
Teknik ketiga dilakukan dengan jalan meminta anak untuk memecahkan masalah yang berbeda di luar kemampuannya (  pengetahuan dan keterampilan) dalam fase ini vigotsky menemukan bahwa pada fase ini anak mulai mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang baru dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, vygotsky menyimpulkan bahwa  dalam memodofikasi stimulus atau memodifikasi situasi yang berkaitan dengan masalah yang dihadapinya dan hal ini, merupakan bagian dari proses merespon masalah yang dihadapinya dalam rangka pemecahan masalah.
b.      Perkembangan sosio-cultural.
Vygotsky memandang riwayat perkembangan sosio-cultural individu berpengaruh pada perkembangan kongnitifnya. Individu yang berkembang di lingkungan atau sosia – budaya yang kurang memfasilitasi perkembangan kongnitifnya dari pada individu yang berada di dalam lingkungan atau sosial-budaya yang memberikan kesempatan secara luas untuk menumbuhkembangkan kemampuan kongnitifnya.

c.       Interaksi sosial
Vygotsky ( 1978) mengemukakan bahwa perkembangan fungsi budaya pada anak terjadi dalam dua fase, seperti berikut ini:
-          Interaksi sosial terjadi pada lingkungan sosial di sekitar anak. Dalam hal ini, interaksi antara anak dengan orang – orang yang berada disekitarnya. Yang disebutnya dengan istilah interpssychological prosess.
-          Interaksi sosial terjadi dalam diri anak yang disebutnya dengan intrapsychological prosess.
Kedua proses tersebut di atas, melibatkan perhatian , berpikir logis, dan formasi konsep. Oleh sebab itu, semua kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan interaksi antara pengalaman aktual antara individu dengan lingkungannya.
-          Mediasi budaya dan internalisasi
Vygotsky mengemukakan bahwa interaksi sosial yang berfungsi sebagai perantara budaya langsung dalam komunikasi interpersonal antar anak dan orang dewasa atau teman sebayanya. Melalui proses ini perkembangan mental tingkat tinggi berkembang sejalan dengan perkembangan budaya di sekitar anak. Selanjutnya anak mengkonstruksi pengetahuannya yang berkaitan dengan berbagai pengalaman interaksi sosial yang dialaminya. Proses ini disebut vygotsky dengan istilah cultural mediation dan proses mental yang terjadi didalamnya disebut dengan istilah internalization ( Berk, L & Winseler, 1995:24). In1ternalization dapat dijelaskan sebagai pemahaman terhadap ‘knowing how”  Misalnya, dengan kemampuan anak menuangkan air kedalam gelas dengan hati-hati agar tidak tumpah adalah hasil dari pemahaman atau proses internalisasi tentang perilaku yang harus dilakukan pada waktu menuangkan air kedalam gelas. Perilaku ini merupakan hasil interaksi sosial dengan orang – orang disekitarnya dan dalam hal ini terjadi mediasi kultural.
d.      Zonz of proxzimal development
Aspek kedua dari teori vygotsky adalah bahwa perkembangan potensi kongnitif ditentukan oleh zonz of proximal development atau ZPD  vygotsky mendefinisikan ZPD sebagai jarak antara kemampuan yang dikuasai yang tercermin dari kemampuan dalam memecahkan masalahsecar mandiri dan kemampuan yang sedang berkembang dan membutuhkan pertolongan melalui interaksi sosial, yang dapat dilihat dari kemampuan anak dalam memecahkan masalah dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang telah memiliki kemampuan tersebut ( Vygotsky, 1978 : 86).
3.      Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer kekomponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
  Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:

  1. Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
  2. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
  3. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
  4. Dari ketiga asumsi tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah
1.      Sensory receptor
2.      Working memory
3.      Long tern memory
Sedangkan proses control diasumsikan sebgai strategi yang tersimpan didalam ingatan dan dapat dipergunakan setiap saat di perlukan.            

  1. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
1)      Motivasi
2)      Pemahaman
3)      Pemerolehan
4)      Penyimpanan
5)      Ingatan kembali
6)      Generalisasi
7)      Perlakuan
8)      Umpan balik

- Tinjauan Pendekatan Teori Pemrosesan Informasi
Teori kognisi menjelaskan tentang bagaimana proses mengetahui terjadi pada manusia. Ada beberapa model yang digunakan untuk menjelaskan proses mengetahui pada manusia. Model pemrosesan informasi membahas tentang peran operasi-operasi kognitif dalam pengolahan informasi (Hetherington & Parke, 1986). Dalam model ini manusia dipandang sebagai labor yang memodifikasi informasi sendiri secara aktif dan terorganisir. Perkembangan seseorang dalam pemrosesan informasi berkaitan dengan perubahan-perubahan kuantitatif dan kualitatif dalam aspek ini serta pengaruh-pengaruh genetis dan lingkungan. Inti dari perkembangan dalam pemrosesan informasi adalah terbentuknya labor pada diri seseorang yang semakin efisien untuk mengontrol aliran informasi (Miller, 1993).
Saat ini ada dua model yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi, yaitu model penyimpanan (store/structure model) dan model tingkat pemrosesan (level of processing). Model penyimpanan dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin (dalam Miller, 1993), sedangkan model tingkat pemrosesan dikembangkan oleh Craik dan Lockhart (dalam Miller, 1993). Dalam model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input), proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara. Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya (Vasta, dkk., 1992).
Secara rinci, Pressley, (1990) memaparkan pemrosesan informasi sebagai berikut : Pertama-tama, manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya (yaitu mata, telinga, hidung, dan sebagainya). Beberapa informasi disaring (diabaikan) pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan ke dalam ingatan jangka pendek (kesadaran). Ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas pemeliharaan informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses sedemikian rupa (misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak akan lenyap dengan cepat. Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek (short-term memory) dapat ditransfer ke dalam ingatan jangka panjang (long-term memory). Ingatan jangka panjang (Long-Term Memory) merupakan hal penting dalam proses belajar. Menurut Anderson (dalam Pressley, 1990), tempat penyimpanan jangka panjang mengandung informasi labora (disebut pengetahuan deklaratif) dan informasi mengenai bagaimana cara mengerjakan sesuatu (disebut pengetahuan laborativ).
Menurut pandangan model pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, sejak kecil seorang anak mengembangkan fungsi labora dalam mengolah informasi dari lingkungannya. Menurut Hetherington & Parke (1986), pada usia antara 3 hingga 12 tahun, fungsi labora seseorang menunjukkan perkembangan yang pesat. Fungsi tersebut mencakup pengaturan informasi yang diperlukan, termasuk memilih strategi yang digunakan dan memonitor keberhasilan penggunaan strategi tersebut. Dalam pandangan model ini, anak merupakan pengatur yang aktif dari fungsi-fungsi kognitifnya sendiri. Oleh karena itu, dalam menghadapi suatu masalah, anak memilih masalah yang akan diselesaikannya, memutuskan besar usaha yang akan dilakukannya, memilih strategi yang akan digunakannya, menghindari hal-hal yang mengganggu usahanya, serta mengevaluasi kualitas hasil usahanya.
Model pemrosesan informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda laborativ orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak mempunyai banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya (Hetherington & Parke, 1986).
Mengingat perkembangan anak yang optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan penelitian yang tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi. Model kedua yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi adalah model tingkat pemrosesan (level of process-ing). Model tingkat pemrosesan yang dikembangkan oleh Craik dan Lockhart ini memiliki prinsip dasar bahwa informasi yang diterima diolah dengan tingkatan yang berbeda. Semakin dalam pengolahan yang dilakukan, semakin baik informasi tersebut diingat. Pada tingkat pengolahan pertama akan diperoleh persepsi, yang merupakan kesadaran seketika akan lingkungan. Pada tingkat pengolahan berikutnya akan diperoleh gambaran laborativ dari informasi. Pada tingkat pengolahan terdalam akan diperoleh makna (meaning) dari informasi yang diterima (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).
Menurut model tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik & Lockhart, 2002).
Pengulangan (rehearsal) yang memegang peranan penting dalam pendekatan model penyimpanan juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun, menurut pandangan model tingkat pemrosesan, hanya mengulang-ngulang saja tidak cukup untuk mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas pengulangan haruslah bersifat laborative. Dalam hal ini, pengulangan harus merupakan sebuah proses pemberian makna meaning) dari informasi yang masuk. Istilah elaborasi sendiri mengacu kepada sejauh mana informasi yang masuk diolah sehingga dapat diikat atau diintegrasikan dengan informasi yang telah ada dalam ingatan (Craik dan Lockhart, dalam Morgan et al., 1986).
Telah disebutkan bahwa prinsip dasar model tingkat pemrosesan informasi adalah semakin besar upaya pemrosesan informasi selama belajar, semakin dalam informasi tersebut akan disimpan dan diingat. Prinsip ini telah banyak diaplikasikan dalam penyusunan setting pengajaran verbal, seperti mengingat daftar kata, juga pengajaran membaca dan bahasa (Cermak & Craik, dalam Craik & Lockhart, 2002).

Manfaat dan hambatan teori pemrosesan informasi
Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain :
v  Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
v  Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
v  Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
v  Prinsip perbedaan individual terlayani.

  1. Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain :
Ø  Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
Ø  Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
Ø  Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan
Ø  Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.
Berdasarkan  temuan  riset  linguistik,  psikologi,  antropologi  dan  ilmu  komputer, dikembangkan  model  berpikir.  Pusat  kajiannya  pada  proses  belajar  dan menggambarkan  cara  individu  memanipulasi  simbol  dan  memproses  informasi. Model belajar pemrosesan  informasi Anita E. Woolfolk  (Parkay & Stanford, 1992) disajikan melalui skema yang dikutip berikut ini.
Model  belajar  pemrosesan  informasi  ini  sering  pula  disebut  model  kognitif information processing, karena dalam proses belajar  ini  tersedia  tiga  taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1)      Sensory  atau  intake  register:  informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register,  tetapi  hanya  disimpan  untuk  periode  waktu  terbatas.  Agar  tetap dalam  sistem,  informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2)      Working memory: pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory,  dan  di  sini  berlangsung  berpikir  yang  sadar.  Kelemahan  working memory  sangat  terbatas  kapasitas  isinya  dan memperhatikan  sejumlah  kecil informasi secara serempak.
3)      Long-term  memory,  yang  secara  potensial  tidak  terbatas  kapasitas  isinya sehingga mampu menampung seluruh  informasi yang sudah dimiliki peserta didik.  Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan,  ketika  individu  belajar,  di  dalam  dirinya  berlangsung  proses kendali atau pemantau bekerjanya  sistem  yang berupa prosedur  strategi mengingat, untuk  menyimpan  informasi  ke  dalam  long-term  memory  (materi  memory  atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja  berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video.  Studi  tentang  bagaimana  informasi  diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia  instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada  stimulus elemen-elemen pesan tersebut.

Teori Pemeroses Informasi Belajar
Asumsi yang mendasari teori ini adalah pembelajaran merupakan factor yang sangat penting dalam perkembangan. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
 Dalam pemeroses informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan eksternal individu kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kongnitif yang terjadi dalam diri individngkau. Sedangkan eksternal adalah rangsangan dari lngkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
   
  1. KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.    Manusia  mengalami perkembangan kognitif dari sejak lahir sampai wafat.
2.    Perkembangan manusia didapat dari pengalaman individu dan social.
3.    Seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama
4.    Manusia berinteraksi sosial dengan perantara budaya langsung dalam komunikasi interpersonal antar anak dan orang dewasa atau teman sebayanya. Melalui proses ini perkembangan mental tingkat tinggi berkembang sejalan dengan perkembangan budaya di sekitar anak.
5.    Perkembangan kongnitif dilakukan melalui serangkaian proses, yaitu proses asimilasi, akomodasi, dan equilibirium















DAFTAR PUSTAKA

Desmita, Dra. M.Si.2008. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Jamaris, Martini. 2010. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Yayasan Penamas Murni: Jakarta

Tri Harajaningrum Agnes, dkk. 2007 Pernan Orang Tua Dan Praktisis Dalam Membantu Tumbuh Kembang Anak Berbuat Melalui Pemahaman Teori Dan Tren Pendidik Jilid I. Jakarta: pernada media Group.

Yudhawati Ratna & Dany Haryanto. 2011 Teori-Teori Dasar Psikologi Pendidikan Jilid  I Jakarta: Prestasi Pustaka































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar